Kita sering diharuskan melakukan perbandingan apakah suatu keputusan lebih bijaksana dibandingkan dengan lainnya. Terlepas dari suatu keputusan tertentu lebih bijaksana dibandingkan lainnya dalam satu kasus tertentu, kita membutuhkan standarisasi terlebih dahulu, kemudian kemungkinan-kemungkinan dinilai berdasarkan standarisasi tersebut yang akan memperlihatkan kualitas dari kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Dengan meletakkan standarisasi kepada urutan biner, akan dapat diketahui kualitas dari suatu kemungkinan diperbandingkan dengan kemungkinan lainnya dalam suatu standarisasi yang relevan.
Sebagai contoh: tentukan suatu standarisasi terlebih dahulu. Di sini saya menggunakan contoh yang sangat sederhana yaitu standarisasi PANCASILA.
1. Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil & Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Standarisasi PANCASILA ini memiliki 5 item utama (selain dari butir-butirnya) yang dapat dimasukkan ke dalam urutan biner menjadi 5 angka biner. Jadi anda siapkan terlebih dahulu 5 angka biner (dalam bayangan – kalau anda dapat berpikir cepat, atau di catat di buku tulis). Seperti ini: 1-1-1-1-1, lalu terjemahkan ke dalam notasi bilangan Dec (menggunakan kalkulator) menjadi = 31. Jumlah sebesar 31 adalah jumlah (moral) tertinggi jika keseluruhan (5 – lima) tahapan PANCASILA terlaksana.
Setelah anda menemukan nilai tertinggi untuk suatu standarisasi, dalam contoh ini yaitu = 31, maka siapkan 5 tempat bagi angka biner yaitu 5 angka NOL = 0-0-0-0-0.Kemudian tentukan kemungkinan-kemungkinan. Sebagai contoh: seseorang di suatu tempat (dengan standarisasi PANCASILA) telah melakukan tiga hal yaitu: urutan sila ke-1, 2 dan sila ke-5, maka pemetaan dalam notasi biner menjadi:
0-0-0-0-0 = nol pertama adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan pertama, nol kedua adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan ke-dua, dan seterusnya.
(dan karena sila ke-1,2 & sila ke-5 terlaksana), maka urutan ke-1,2 & ke-5 dari ke-5 tempat biner dirubah menjadi satu:
1-0-0-1-1 = 19, ini adalah nilai kualitas jika ke-tiga butir (yang tertentu) pancasila terlaksana. Bandingkanlah jika menggunakan kombinasi lainnya. Yang lebih baik tentu kalau semua terlaksana (nilai = 31), dan kalau tidak dapat terlaksana semuanya, paling tidak dapat dilihat status dari kualitasnya dibandingkan dengan kemungkinan (kombinasi) lainnya.
Bagaimana kalau suatu item (sila) memiliki banyak sub-item (butir-butir) ? Dengan menggunakan contoh PANCASILA, berarti anda harus menyiapkan untuk keseluruhan sub-item (butir-butir) dari suatu item (sila) tertentu sebagai satu deret biner seperti yg telah dijelaskan di atas, dan perhitungan dilakukan sama seperti yang telah dijelaskan tetapi dilakukan secara terpisah, dimana perhitungan dari sejumlah sub-item (butir-butir) tidak melibatkan item-item induknya (ke-5 sila Pancasila).
Dan setelah satu group sub-item (butir-butir) diketahui kualitasnya, maka konversilah menjadi nilai prosentase dari keseluruhan (total) nilai maksimal (nilai yang diperoleh jika keseluruhan sub-item dari suatu sila Pancasila terlaksana). Nilai prosentase tersebut menentukan sampai seberapa jauh dapat dibulatkan ke-atas sehingga menyandang status 1 dari notasi biner. Jika semakin dekat dengan 100% (misalkan 95%), akan dapat dibulatkan menjadi 100% dan menyandang status 1 dalam notasi biner, sehingga secara langsung … item induknya (sila yang terkait) memiliki status 1, atau jika tidak layak dibulatkan ke atas, berilah nilai 0 sehingga item induknya (sila tertentu yang terkait) secara otomatis memiliki nilai status 0. Kemudian lanjutkan ke sejumlah sub-item (butir-butir) lainnya yang terletak di item induk (sila Pancasila) berikutnya.
Setelah masing-masing dari ke-5 item induk (sila Pancasila) memperoleh nilai statusnya yang berasal dari limpahan beberapa sub-item (butir-butir) dari masing-masing sila, maka anda telah memiliki deret biner dari PANCASILA (dengan perbedaan dengan yang di atas, dimana perhitungan disini telah melibatkan butir-butirnya). Deret biner tersebut anda konversi ke nilai Dec (menggunakan kalkulator) untuk mendapatkan nilai kualitasnya.
Dengan mencoba kombinasi pelaksanaan butir-butir Pancasila, dapat diketahui perbandingan kualitas dari kemungkinan – kemungkinan kombinasi.
Metode analisa kualitas perbandingan ini sangat ditentukan oleh
1. Struktur dari standarisasi yang ada
2. Kelengkapan dari stuktur standarisasi yang ada
Ini adalah masalah, karena ke-dua hal ini atau mungkin ada yang lainnya (ini adalah sejauh yang saya ketahui) juga memiliki parameter yang berbeda bagi setiap pribadi, sehingga sekali lagi pada akhirnya hasil penilaian dengan menggunakan metode ini dapat berbeda-beda di antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Ini bukan masalah, karena penerapan inipun dapat bersifat pribadi sejauh dapat membantu mempercepat proses analisa secara pribadi pula.
Ini hanyalah sebagian kecil dari kebijaksanaan atau bahkan justru sama sekali kurang tepat (kurang mempunyai nilai – karena tidak ada sesuatu yang tidak mempunyai nilai tergantung dari mana sudut pandang nilai itu sendiri serta keterkaitannya dengan fungsi tertentu), lagi pula ini adalah sesi eksperimental, anda dapat mencoba dan mungkin dapat mengetahui sampai seberapa jauh proyek eksperimental ini memiliki nilai guna.
Jika sesi (metode) ini memiliki kemiripan dengan yang pernah anda kenal, silakan informasikan, karena inisiatif (metode) dari saya secara pribadi ini belum sempat saya telusuri di dunia maya atau dimanapun itu (kecuali di diri saya sendiri). Terima-kasih.
Penerapan praktis menggunakan spreadsheet dapat dicoba di link berikut ini: Binary Comparison
English Version
PANCASILA
Pancasila, pronounced Panchaseela, is the philosophical basis of the Indonesian State. Pancasila consists of two Sanskrit words, “Panca” meaning five, and “Sila” meaning principle. It comprises five inseparable and interrelated principles. They are:
- BELIEF IN THE ONE AND ONLY GOD
- JUST AND CIVILIZED HUMANITY
- THE UNITY OF INDONESIA
- DEMOCRACY GUIDED BY THE INNER WISDOM IN THE UNANIMITY ARISING OUT OF DELIBERATIONS AMONGST REPRESENTATIVES
- SOCIAL JUSTICE FOR WHOLE OF THE PEOPLE OF INDONESIA
Elaboration of the five principles is as follows:
- Belief in the One and Only God
This principle of Pancasila reaffirms the Indonesian people’s belief that God does exist. It also implies that the Indonesian people believe in life after death. It emphasizes the pursuit sacred values will lead the people to a better life in the hereafter. The principle is embodied in article 29, Section 1of the 1945 Constitution and reads: The state shall be based on the belief in the One and Only God. - Just and Civilized Humanity
Just principle requires that human beings be treated with due regard to their dignity as God’s creatures. It emphasizes that the Indonesian people do not tolerate physical or spiritual oppression of human beings by their own people or by any other nation. - The Unity of Indonesia
This principle embodies the concept of nationalism, of love for one’s nation and motherland. It envisages the need to always foster national unity and integrity. Pancasila Nationalsm demands that Indonesians avoid feelings of superiority on ethnical grounds, for reasons of ancestry and colour of the skin. In 1928 Indonesian youth pledged to have one country, one nation and one language, while the Indonesian coat of arms enshrines the symbols of “Bhineka Tunggal Ika” which means “Unity in diversity”. - Democracy Guided by the Inner Wisdom in the Unanimity Arising Out of Deliberations amongst Representatives
Pancasila democracy calls for decision-making through deliberations, or musyawarah, to reach a consensus, or mufakat. It is democracy that lives up to the principles of Pancasila. This implies that democratic right must always be exercised with a deep sense of responsibility to God Almighty according to one’s own conviction and religious belief, with respect for humanitarian values of man’s dignity and integrity, and with a view to preserving and strengthening national unity and the pursuit of social justice.Thus, Pancasila Democracy means democracy based on the people’s soveregnity which is inspired by and integrated with other principles of Pancasila. This means that the use of democratic rights should always be in line with respüomnsibility towards God Almighty according to the respective faith; uphold humanvalues in line with human dignity; guarantee and strengthen national unity; and be aimed at realizing social justice for the whole of the people of Indonesia. - Social Justice for the Whole of the People of Indonesia
This principle calls for the equitable spread of welfare to the entire population, not in a static but in a dynamic progressive way. This means that all the country’s natural resources and the national potentials should be utilized for the greater possible good and happiness of the people.Social justice implies protection of the weak. But protection should not deny them work. On the contrary, they should work according to their abilities and fields of activity. Protection should prevent wilful treatment by the strong and ensure the rule of justice.These are the sacred values of Pancasila which, as a cultural principle, should always be respected by every Indonesian because it is now the ideology of the state and the life philosophy of the Indonesian people.
Pancasila (English version) from Embassy of Indonesia – Ottawa & Answer.com
mana nih yg ulang taon……, pada ganti nomer hp ya? kok tak telpon pada gak bisa..
kelihatannya yang ulang tahun sedang sibuk main forex
ooo…udah pada mulai ya? nyalain ymnya ntar tak kasih sinyal gratis………
Wah itu mantap, tapi saya coba dulu satu minggu ini. Kalau hasilnya kurang sesuai, signalnya pasti saya tunggu Kecuali jika prosentase keberhasilan lumayan, signalnya tetap ditunggu untuk compare and share. Ok deh.
hi hi hi,
saling bagi sinyal…saling berbagi keberhasilan,
selamat dan sukses deh..
ditunggu ceritanya…