<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Seremonia.net</title>
	<atom:link href="http://seremonia.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://seremonia.net</link>
	<description>Think Different &#34;Essential&#34;</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Jul 2010 03:13:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Binary Comparison for Quality Control</title>
		<link>http://seremonia.net/binary-comparison-for-quality-control/</link>
		<comments>http://seremonia.net/binary-comparison-for-quality-control/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 03:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Project]]></category>
		<category><![CDATA[binary]]></category>
		<category><![CDATA[comparison]]></category>
		<category><![CDATA[control]]></category>
		<category><![CDATA[quality]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Kita sering diharuskan melakukan perbandingan apakah suatu keputusan lebih bijaksana dibandingkan dengan lainnya. Terlepas dari suatu keputusan tertentu lebih bijaksana dibandingkan lainnya dalam satu kasus tertentu, kita membutuhkan standarisasi terlebih dahulu, kemudian kemungkinan-kemungkinan dinilai berdasarkan standarisasi tersebut yang akan memperlihatkan kualitas dari kemungkinan-kemungkinan yang ada. Dengan meletakkan standarisasi kepada urutan biner, akan dapat diketahui kualitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kita sering diharuskan melakukan perbandingan apakah suatu keputusan lebih bijaksana dibandingkan dengan lainnya. Terlepas dari suatu keputusan tertentu lebih bijaksana dibandingkan lainnya dalam satu kasus tertentu, kita membutuhkan standarisasi terlebih dahulu, kemudian kemungkinan-kemungkinan dinilai berdasarkan standarisasi tersebut yang akan memperlihatkan kualitas dari kemungkinan-kemungkinan yang ada.<span id="more-59"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan meletakkan standarisasi kepada urutan biner, akan dapat diketahui kualitas dari suatu kemungkinan diperbandingkan dengan kemungkinan lainnya dalam suatu standarisasi yang relevan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh: tentukan suatu standarisasi terlebih dahulu. Di sini saya menggunakan contoh yang sangat sederhana yaitu standarisasi PANCASILA.</p>
<p style="text-align: justify;">1. Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa</p>
<p style="text-align: justify;">2. Kemanusiaan Yang Adil &amp; Beradab</p>
<p style="text-align: justify;">3. Persatuan Indonesia</p>
<p style="text-align: justify;">4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan</p>
<p style="text-align: justify;">5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Standarisasi PANCASILA ini memiliki 5 item utama (selain dari butir-butirnya) yang dapat dimasukkan ke dalam urutan biner menjadi 5 angka biner. Jadi anda siapkan terlebih dahulu 5 angka biner (dalam bayangan &#8211; kalau anda dapat berpikir cepat, atau di catat di buku tulis). Seperti ini: 1-1-1-1-1, lalu terjemahkan ke dalam notasi bilangan Dec (menggunakan kalkulator) menjadi = 31. Jumlah sebesar 31 adalah jumlah (moral) tertinggi jika keseluruhan (5 &#8211; lima) tahapan PANCASILA terlaksana.<br />
Setelah anda menemukan nilai tertinggi untuk suatu standarisasi, dalam contoh ini yaitu = 31, maka siapkan 5 tempat bagi angka biner yaitu 5 angka NOL = 0-0-0-0-0.</p>
<p>Kemudian tentukan kemungkinan-kemungkinan. Sebagai contoh: seseorang di suatu tempat (dengan standarisasi PANCASILA) telah melakukan tiga hal yaitu: urutan sila ke-1, 2 dan sila ke-5, maka pemetaan dalam notasi biner menjadi:</p>
<p>0-0-0-0-0 = nol pertama adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan pertama, nol kedua adalah tempat bagi status terlaksananya standarisasi urutan ke-dua, dan seterusnya.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">(dan karena sila ke-1,2 &amp; sila ke-5 terlaksana), maka urutan ke-1,2 &amp; ke-5 dari ke-5 tempat biner dirubah menjadi satu:</p>
<p style="text-align: justify;">1-0-0-1-1 = 19, ini adalah nilai kualitas jika ke-tiga butir (yang tertentu) pancasila terlaksana. Bandingkanlah jika menggunakan kombinasi lainnya. Yang lebih baik tentu kalau semua terlaksana (nilai = 31), dan kalau tidak dapat terlaksana semuanya, paling tidak dapat dilihat status dari kualitasnya dibandingkan dengan kemungkinan (kombinasi) lainnya.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Bagaimana kalau suatu item (sila) memiliki banyak sub-item (butir-butir) ? Dengan menggunakan contoh PANCASILA, berarti anda harus menyiapkan untuk keseluruhan sub-item (butir-butir) dari suatu item (sila) tertentu sebagai satu deret biner seperti yg telah dijelaskan di atas, dan perhitungan dilakukan sama seperti yang telah dijelaskan tetapi dilakukan secara terpisah, dimana perhitungan dari sejumlah sub-item (butir-butir) tidak melibatkan item-item induknya (ke-5 sila Pancasila).</p>
<p>Dan setelah satu group sub-item (butir-butir) diketahui kualitasnya, maka konversilah menjadi nilai prosentase dari keseluruhan (total) nilai maksimal (nilai yang diperoleh jika keseluruhan sub-item dari suatu sila Pancasila terlaksana). Nilai prosentase tersebut menentukan sampai seberapa jauh dapat dibulatkan ke-atas sehingga menyandang status 1 dari notasi biner. Jika semakin dekat dengan 100% (misalkan 95%), akan dapat dibulatkan menjadi 100% dan menyandang status 1 dalam notasi biner, sehingga secara langsung &#8230; item induknya (sila yang terkait) memiliki status 1, atau jika tidak layak dibulatkan ke atas, berilah nilai 0 sehingga item induknya (sila tertentu yang terkait) secara otomatis memiliki nilai status 0. Kemudian lanjutkan ke sejumlah sub-item (butir-butir) lainnya yang terletak di item induk (sila Pancasila) berikutnya.</p>
<p>Setelah masing-masing dari ke-5 item induk (sila Pancasila) memperoleh nilai statusnya yang berasal dari limpahan beberapa sub-item (butir-butir) dari masing-masing sila, maka anda telah memiliki deret biner dari PANCASILA (dengan perbedaan dengan yang di atas, dimana perhitungan disini telah melibatkan butir-butirnya). Deret biner tersebut anda konversi ke nilai Dec (menggunakan kalkulator) untuk mendapatkan nilai kualitasnya.</p>
<p>Dengan mencoba kombinasi pelaksanaan butir-butir Pancasila, dapat diketahui perbandingan kualitas dari kemungkinan &#8211; kemungkinan kombinasi.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Metode analisa kualitas perbandingan ini sangat ditentukan oleh</p>
<p style="text-align: justify;">1. Struktur dari standarisasi yang ada</p>
<p style="text-align: justify;">2. Kelengkapan dari stuktur standarisasi yang ada</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah masalah, karena ke-dua hal ini atau mungkin ada yang lainnya (ini adalah sejauh yang saya ketahui) juga memiliki parameter yang berbeda bagi setiap pribadi, sehingga sekali lagi pada akhirnya hasil penilaian dengan menggunakan metode ini dapat berbeda-beda di antara satu pribadi dengan pribadi lainnya. Ini bukan masalah, karena penerapan inipun dapat bersifat pribadi sejauh dapat membantu mempercepat proses analisa secara pribadi pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini hanyalah sebagian kecil dari kebijaksanaan atau bahkan justru sama sekali kurang tepat (kurang mempunyai nilai &#8211; karena tidak ada sesuatu yang tidak mempunyai nilai tergantung dari mana sudut pandang nilai itu sendiri serta keterkaitannya dengan fungsi tertentu), lagi pula ini adalah sesi eksperimental, anda dapat mencoba dan mungkin dapat mengetahui sampai seberapa jauh proyek eksperimental ini memiliki nilai guna.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika sesi (metode) ini memiliki kemiripan dengan yang pernah anda kenal, silakan informasikan, karena inisiatif (metode) dari saya secara pribadi ini belum sempat saya telusuri di dunia maya atau dimanapun itu (kecuali di diri saya sendiri). Terima-kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Penerapan praktis menggunakan spreadsheet dapat dicoba di link berikut ini: <a href="http://public.sheet.zoho.com/public/seremonia/binary-comparison-for-pancasila" target="_blank">Binary Comparison</a></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">English Version</span></p>
<p style="text-align: justify;">PANCASILA</p>
<p style="text-align: justify;">Pancasila, pronounced Panchaseela, is the philosophical basis of the Indonesian State. Pancasila consists of two Sanskrit words, “Panca” meaning five, and “Sila” meaning principle. It comprises five inseparable and interrelated principles. They are:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>BELIEF IN THE ONE AND ONLY GOD</li>
<li>JUST AND CIVILIZED HUMANITY</li>
<li>THE UNITY OF INDONESIA</li>
<li>DEMOCRACY GUIDED BY THE INNER WISDOM IN THE UNANIMITY ARISING OUT OF DELIBERATIONS AMONGST REPRESENTATIVES</li>
<li>SOCIAL JUSTICE FOR WHOLE OF THE PEOPLE OF INDONESIA</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Elaboration of the five principles is as follows:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Belief in the One and Only God<br />
This principle of Pancasila reaffirms the Indonesian people’s belief that God does      exist. It also implies that the Indonesian people believe in life after death. It      emphasizes the pursuit sacred values will lead the people to a better life in the      hereafter. The principle is embodied in article 29, Section 1of the 1945 Constitution      and reads: The state shall be based on the belief in the One and Only God.</li>
<li>Just and Civilized Humanity<br />
Just principle requires that human beings be treated with due regard to their dignity      as God’s creatures. It emphasizes that the Indonesian people do not tolerate physical or spiritual oppression of human beings by their own people or by any other nation.</li>
<li>The Unity of Indonesia<br />
This principle embodies the concept of nationalism, of love for one’s nation and motherland. It envisages the need to always foster national unity and integrity. Pancasila Nationalsm demands that Indonesians avoid feelings of superiority on ethnical grounds, for reasons of ancestry and colour of the skin. In 1928 Indonesian youth pledged to have one country, one nation and one language, while the Indonesian coat of arms enshrines the symbols of “Bhineka Tunggal Ika” which means “Unity in diversity”.</li>
<li>Democracy Guided by the Inner Wisdom in the Unanimity Arising Out of  Deliberations amongst Representatives<br />
Pancasila democracy calls for decision-making through deliberations, or musyawarah, to reach a consensus, or mufakat. It is democracy that lives up to the principles of Pancasila. This implies that democratic right must always be exercised with a deep sense of responsibility to God Almighty according to one’s own conviction and religious belief, with respect for humanitarian values of man’s dignity and integrity, and with a view to preserving and strengthening national unity and the pursuit of social justice.Thus, Pancasila Democracy means democracy based on the people’s soveregnity which is inspired by and integrated with other principles of Pancasila. This means that the use of democratic rights should always be in line with respüomnsibility towards God Almighty according to the respective faith; uphold humanvalues in line with human dignity; guarantee and strengthen national unity; and be aimed at realizing social justice for the whole of the people of Indonesia.</li>
<li>Social Justice for the Whole of the People of Indonesia<br />
This principle calls for the equitable spread of welfare to the entire population, not in a static but in a dynamic progressive way. This means that all the country’s natural resources and the national potentials should be utilized for the greater possible good and happiness of the people.Social justice implies protection of the weak. But protection should not deny them  work. On the contrary, they should work according to their abilities and fields of activity. Protection should prevent wilful treatment by the strong and ensure the rule of justice.</p>
<p>These are the sacred values of Pancasila which, as a cultural principle, should  always be respected by every Indonesian because it is now the ideology of the state and the life philosophy of the Indonesian people.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pancasila (English version) from <a href="http://www.indonesia-ottawa.org/page.php?s=1000state" target="_blank">Embassy of Indonesia &#8211; Ottawa</a> &amp; <a href="http://www.answers.com/topic/pancasila-1" target="_blank">Answer.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/binary-comparison-for-quality-control/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengukur Masa</title>
		<link>http://seremonia.net/mengukur-masa/</link>
		<comments>http://seremonia.net/mengukur-masa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 02:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Improvement]]></category>
		<category><![CDATA[masa]]></category>
		<category><![CDATA[mengukur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita akan meraih suatu harapan tentu ada banyak ganjalan yang salah satu di antaranya adalah selalu ingin cepat meraih kesuksesan. Lalu seberapa sabar kita harus meraih kesuksesan ? apakah harus cepat atau santai saja dalam meraih kesuksesan atau harapan apapun itu ? Ada tiga hal (paling tidak untuk saat ini) yang perlu diketahui untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika kita akan meraih suatu harapan tentu ada banyak ganjalan yang salah satu di antaranya adalah selalu ingin cepat meraih kesuksesan. Lalu seberapa sabar kita harus meraih kesuksesan ? apakah harus cepat atau santai saja dalam meraih kesuksesan atau harapan apapun itu ?<span id="more-46"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Ada tiga hal (paling tidak untuk saat ini) yang perlu diketahui untuk menyikapi batas kesabaran dalam mengharapkan tercapainya tujuan kita. Pertama: seberapa jauh sesuatu itu penting bagi kita (dan harus di cek setiap saat/hari agar relevan).  Yang ke dua (harus di cek setiap saat/hari) yaitu mengenali diri sendiri apakah kita punya potensi entah waktu, keadaan ataupun sejauh apapun yang bisa kita duga &#8211; saat ini &#8211; untuk mewujudkannya dan di masa yang akan datang juga masih ada peluang. Yang terakhir: seberapa jauh kita mampu memotivasi diri agar tetap berjuang untuk mencapai prioritas (itupun harus di cek setiap saat/hari). Kalau kita telah menemukan jawabannya, berarti kita telah menemukan masanya, yaitu sebesar penguasaan kita dalam menerapkan masing-masing dari ketiga tahapan tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Semakin menguasai ke tiga tahapan dengan baik, tentu kita akan mengukurnya dengan ukuran masa yang sangat dekat, atau jauh tapi tidak membebani atau bahkan tidak dipikirkan lagi tentang berapa lama sesuatu harapan akan terwujud. Pada akhirnya bukan tidak mungkin akan mengarahkan kita bukan kepada berpikir tentang berapa lama sesuatu harapan akan terwujud tetapi lebih baik lagi, yaitu menyadari seberapa besar tanggung-jawab kita dalam meraih harapan serta kesadaran akan relevansinya bagi kehidupan kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/mengukur-masa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Keburukan</title>
		<link>http://seremonia.net/manajemen-keburukan/</link>
		<comments>http://seremonia.net/manajemen-keburukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jul 2010 02:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Improvement]]></category>
		<category><![CDATA[keburukan]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Keburukan tidak layak dipelihara tetapi kita tidak dapat menghindari keburukan, sedangkan kebaikan sulit diraih tetapi wajib diusahakan. Ini adalah fakta yang harus disadari terlebih dahulu. Dengan menyadari kebenaran ini kita akan lebih mudah membahas bagaimana menyikapi keburukan tanpa terjebak oleh fitnah dan kesalah-pahaman. Ada beberapa hal yang penting untuk menyikapi keburukan yaitu: Berusaha penuh perjuangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Keburukan tidak layak dipelihara tetapi kita tidak dapat menghindari keburukan, sedangkan kebaikan sulit diraih tetapi wajib diusahakan. Ini adalah fakta yang harus disadari terlebih dahulu. Dengan menyadari kebenaran ini kita akan lebih mudah membahas bagaimana menyikapi keburukan tanpa terjebak oleh fitnah dan kesalah-pahaman.<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa hal yang penting untuk menyikapi keburukan yaitu: Berusaha penuh perjuangan untuk mencegah keburukan, sejauh kesempatan dan kebijaksanaan yang ada pada diri kita. Jika ini telah dilakukan dan keburukan tidak juga hilang atau berkurang, maka (seolah-olah) anda sedang memelihara keburukan. Bagaimana sikap anda selanjutnya ?</p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Tentu anda terpaksa (karena ketidak-berdayaan) harus menjaga batas keburukan tersebut jangan menjadi lebih buruk sambil mencari cara terus-menerus untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan keburukan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menjaga batas keburukan (agar tidak lebih buruk) serta mencari solusi pemecahannya, kita dapat mengimbanginya dengan membentuk kebaikan yang kelak dapat diharapkan menghapus keburukan yang ada atau paling tidak mengurangi dampak keburukan yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Manajemen keburukan seperti di atas cepat atau lambat akan menggiring kita untuk keluar dari keburukan atau mengurangi dampak keburukan atau paling tidak telah menempatkan kita pada kondisi yang optimal paling baik di segala situasi, yang pada akhirnya membentuk diri kita untuk lebih kreatif dan progresif ke depan secara positif, dari pada hanya sekedar menyesali keburukan dan mencari solusi yang juga tidak optimal.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai kita terjebak untuk mengatasi keburukan yang sebenarnya justru menambah keburukan. Lebih baik membangun kebaikan (yang seolah-olah membiarkan keburukan) padahal justru sedang mengatasi atau mengurangi keburukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/manajemen-keburukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mathematic and General Computational</title>
		<link>http://seremonia.net/mathematic-and-general-computational/</link>
		<comments>http://seremonia.net/mathematic-and-general-computational/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 01:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[computational]]></category>
		<category><![CDATA[general]]></category>
		<category><![CDATA[mathematic]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkah anda melakukan perhitungan penjumlahan, pengurangan, pembagian &#8230;. ? Mudah ! Dapatkah anda mencari tahu informasi tentang sebuah kota ? (Information about city, coordinates, etc) Dan sejenisnya. Juga mengeksplorasi beragam nutrisi (nutrition) dari buah-buahan dibandingkan dengan lainnya. Bahkan pengetahuan umum tentang kesehatan, grafik matematika, calculus &#8230; semuanya dapat dihitung ! Uniknya &#8230; Hasil dari perhitungan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dapatkah anda melakukan perhitungan penjumlahan, pengurangan, pembagian &#8230;. ? Mudah ! Dapatkah anda mencari tahu informasi tentang sebuah kota ? (Information about city, coordinates, etc) Dan sejenisnya. Juga mengeksplorasi beragam nutrisi (nutrition) dari buah-buahan dibandingkan dengan lainnya. Bahkan pengetahuan umum tentang kesehatan, grafik matematika, calculus &#8230; semuanya dapat dihitung !<span id="more-37"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Uniknya &#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Hasil dari perhitungan yang diminta diberikan <em>penjabaran (step by step description)</em> secara cukup detail yang dapat membantu kita lebih mendalami proses perhitungan. Benar, ini adalah perangkat perhitungan yang tidak hanya ditujukan bagi problematika matematika, melainkan perhitungan terhadap pengetahuan apa saja sejauh dapat dilakukan perhitungan !</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.wolframalpha.com/" target="_blank">Wolfram &#8211; Alpha</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/mathematic-and-general-computational/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lucid Dream</title>
		<link>http://seremonia.net/lucid-dream/</link>
		<comments>http://seremonia.net/lucid-dream/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 01:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Educational]]></category>
		<category><![CDATA[dream]]></category>
		<category><![CDATA[lucid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah anda bermimpi ? Sering tentunya. Pernahkah anda menyadari bahwa anda sedang bermimpi ? Ini yang mungkin jarang. Ketika anda menyadari bahwa sedang bermimpi, maka seketika itu pula lingkungan mimpi yang melingkupi anda mendadak menjadi realita yang sangat solid (real &#8211; nyata) di dalam sensasi sentuhan ataupun interaksi anda terhadapnya. Anda menjadi seperti di dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pernahkah anda bermimpi ? Sering tentunya. Pernahkah anda menyadari bahwa anda sedang bermimpi ? Ini yang mungkin jarang. Ketika anda menyadari bahwa sedang bermimpi, maka seketika itu pula lingkungan mimpi yang melingkupi anda mendadak menjadi realita yang sangat solid (real &#8211; nyata) di dalam sensasi sentuhan ataupun interaksi anda terhadapnya.<span id="more-34"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Anda menjadi seperti di dunia yang memiliki tingkat kepadatan &#8211; real yang mirip seperti di dunia ketika anda bangun dari mimpi. Keunikannya karena disini adalah dunia mimpi maka serta merta kesadaran anda membuat dunia mimpi tersebut berada dalam kontrol kehendak anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera setelah anda menginginkan sesuatu dengan amat sangat, datanglah sekejap di depan anda (di dalam mimpi tersebut). Ini anda rasakan dengan hampir atau bahkan sama nyatanya dengan ketika di keadaan jaga (tidak sedang bermimpi).</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaikan simulasi realita, anda dapat mensimulasikan laboratorium penelitian dimana anda dapat mencari tahu apa yang terjadi jika suatu campuran dilakukan. Sebuah simulasi Televisi atau bahkan simulasi minuman dengan rasa dari jenis apa saja sejauh imajinasi anda, seperti minuman dengan cita rasa gabungan antara rasa jeruk dengan abstraksi dari keindahan musik Mozart. Atau minuman yang memiliki rasa gabungan dari cita rasa cinta tulus dengan cita rasa kelembutan embun.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah dunia yang ajaib, dunia mimpi. Paling tidak anda mengetahui betapa jangan semudah itu menyangkal manakah yang real dan manakah yang tidak. Apa kriteria dari yang ini real dan yang ini bukan. Memang ini hanya dapat diperbincangkan dengan praktisi olah jiwa dan semacamnya. Dan kita semakin terbuka memahami sampai seberapa jauh nilai imajinasi memiliki kualitas terhadap interaksi dengan diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika anda sedang tertidur, dan tiba-tiba seseorang memercikkan air ke muka seseorang yang sedang tidur dan kebetulan juga sedang bermimpi, boleh jadi percikan air tersebut diartikan sebagai pengalaman hujan di dalam mimpinya. Atau ketika suatu wewangian di dekatkan ke hidung orang yang sedang bermimpi, mungkin akan diartikan sebagai pengalaman yang sesuai dengan watak dan pengalaman seseorang tersebut. Tetapi si &#8220;yang sedang bermimpi&#8221; tidak menyadari bahwa sensasi di alam mimpi adalah sebagai akibat dari pancingan (stimulus) dari luar (yang dilakukan oleh orang yang tidak sedang tidur). Seandainya dia menyadari bahwa pengalaman hujan (akibat diperciki air) ia kenali sebagai akibat dari pengalaman luar, maka si &#8220;yang sedang bermimpi&#8221; akan segera menyadari dan mengalami &#8220;Lucid Dreaming&#8221; yaitu mimpinya berubah menjadi mimpi yang jelas dan dapat dikontrol.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suatu alat tertentu seperti <a href="http://remdreamer.com/" target="_blank">remdreamer</a> atau <a href="http://www.lucidity.com/novadreamer.html" target="_blank">novadreamer</a> yang mampu mendeteksi apakah seseorang sedang bermimpi atau tidak, maka dapat diberikan kode seperti kilasan cahaya (flash light &#8211; yang berkedip-kedip) hanya ketika si pemakai alat tersebut sedang bermimpi. Si pemimpi mungkin akan merasakan pengalaman mimpi dari skenario awal yang berubah menjadi skenario menaiki sepeda motor dengan lampu yang berkedip (seolah akan rusak) atau merasa di alam mimpi melihat mobil pemadam kebakaran atau interpretasi lainnya. Untuk pertama kali mungkin si pemimpi tidak menyadari bahwa skenario pengalaman dalam mimpinya berasal dari (akibat dari) pancingan dari alat pemancar kedipan cahaya. Tetapi kalau setiap akan tidur alat tersebut dipakai (dijadikan penutup kedua mata), maka diri kita &#8211; kebiasaan kita atau entah apa istilahnya akan membentuk pemahaman reflek &#8211; pemahaman otomatis bahwa kalau ada kedipan cahaya berarti berasal dari alat tersebut (berbentuk seperti kacamata).</p>
<p style="text-align: justify;">Pemahaman reflek ini akan berlanjut sampai ke alam mimpi, sehingga segera setelah alat ini mendeteksi anda sedang bermimpi (ditandai oleh pergerakan mata yang cepat &#8211; REM &#8211; Rapid Eye Movement), ia (alat ini) akan menyalakan cahaya yang berkedip-kedip serta suara dengan kekuatan naik-turun, dan pemahaman reflek anda akan mengingatkan anda (yang sedang bermimpi) bahwa pengalaman apapun di alam mimpi yang melibatkan cahaya &amp; suara (seperti mobil pemadam kebakaran, sirene polisi atau yang lainnya) adalah sebagai akibat dari pancingan alat tersebut. Keadaan ini akan menggugah kesadaran anda untuk menyadari adanya dunia luar yang mempengaruhi mimpinya (dalam hal ini adalah alat tersebut) yang akan menyadarkan si pemimpi (tanpa harus terbangun dari tidur &#8211; kecuali kalau kekuatan lampu atau suaranya di atur terlalu silau dan keras) dan membuat mimpinya sesegera mungkin berubah menjadi &#8220;Lucid Dream&#8221; &#8211; mimpi yang sedemikian jelas (seolah-olah di alam realita ketika terjaga dari tidur) dan dapat dikontrol dengan kehendak sebagaimana yang telah dijelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda mungkin bertanya, <strong>seberapa jelas kenyataan mimpi ketika sampai kepada level &#8220;mimpi jelas&#8221;</strong> (Lucid Dream) ? Berikut ini penjelasannya. Walaupun ini adalah kasus yang langka, bukan berarti tidak pernah terjadi, yaitu istilah dikalangan Lucid Dreamer, yaitu &#8220;False Awakening&#8221; (Salah Bangun). Maksudnya &#8230; ? Jadi setelah anda bermimpi jelas (lucid dream) lalu mengontrol alam mimpi anda agar dapat mengalami terbang dan sensasi apa saja yang anda hasratkan, maka mendadak alam mimpi nampak runtuh seperti runtuhnya lukisan 3D (sensasinya sedemikian nyata &#8211; seolah-olah seperti matrix) dan disusul dengan ketidak-sadaran anda, lalu tidak sampai lama anda bangun dari tidur seperti biasanya. <strong>Yang jadi masalah disini adalah</strong>, anda mengalami &#8220;false awakening&#8221; (salah bangun), dimana setelah keruntuhan alam mimpi, dan anda terbangun, ternyata <strong>mimpi jelas (lucid dream) masih berlanjut !</strong> Dengan segala tata letak ruangan dan sensasi keadaan mirip (bahkan boleh jadi sulit dibedakan &#8211; kecuali anda sedemikian teliti) dengan keadaan kehidupan anda ketika sedang terjaga dari tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda merasa sedang mandi, makan, berbicara dengan anggota keluarga anda, padahal itu semua adalah tokoh mimpi (anda ternyata masih bermimpi) ! Tetapi jangan khawatir karena bahkan alam pun tidak dapat menciptakan tiruan yang dapat sedemikian mirip, karena alam bukan Tuhan. Kalau anda teliti keadaan mimpi yang berlanjut tersebut (false awakening) ada banyak keganjilan &#8211; keanehan. Sebagai contoh kalau anda menulis di kertas, setelah anda memalingkan muka ke arah lain dan kembali ke tulisan tersebut, tulisan itu akan hilang. Tengoklah jam dinding, setiap saat setelah anda mengamati dan mengulangi lagi pengamatan setelah mengabaikannya, akan terlihat jam di dinding menunjukkan waktu yang berbeda. Jika hal itu terjadi, berarti anda sedang (masih) bermimpi. Yang perlu anda lakukan adalah mencari tempat tidur di alam mimpi atau berbaring saja dan menidurkan diri lagi dengan harapan bangun yang berikutnya adalah bangun dengan versi kenyataan sebagaimana sebelum anda tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ini terjadi karena ketika tadi anda sedang mengalami lucid dream, sensasi mimpi jelas tersebut sedemikian cepat hilang, sedangkan mungkin tubuh anda masih lelah dan masih tertidur, sehingga sensasi hancurnya alam mimpi harus berlanjut dengan skenario lainnya yang dianggap masuk akal, yaitu skenario bangun tidur. Tetapi durasi &#8211; waktu tidur anda tidak berarti bertambah melainkan sensasi &#8220;false awakening&#8221; tersebut akan berlanjut sampai waktu tidur normal anda mendekati waktu bangun yang sesungguhnya, maka secara otomatis anda terbangun dengan sendirinya dengan situasi tampilan alam yang memang benar-benar seperti di saat sebelum tertidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu sebabnya, para lucid dreamer (yang mempraktekkan &#8211; memicu dengan sengaja &#8211; lucid dream) sering menuliskan sesuatu di online internet, untuk dijadikan rujukan setelah bangun, apakah tulisan yang telah dicantumkan di internet berubah atau tidak, jika tidak berubah maka dianggap ia telah benar-benar bangun.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain dari segi manfaatnya sebagai simulasi kehidupan yang terkesan nyata &amp; yang dapat digunakan untuk pembelajaran sikap, pengamatan dst, ternyata ada juga sisi sulitnya. Satu hal lagi yang perlu diketahui, pengidap penyakit epilepsi boleh jadi dapat terpengaruh (penyakitnya kambuh) setelah menggunakan alat pemicu lucid dreamer seperti <a href="http://remdreamer.com/" target="_blank">remdreamer</a> atau <a href="http://www.lucidity.com/novadreamer.html" target="_blank">novadreamer</a> ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Memang masih banyak misteri yang kita tidak akan pernah dapat mengetahuinya secara keseluruhan &amp; tuntas.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/lucid-dream/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Well Defined</title>
		<link>http://seremonia.net/well-defined/</link>
		<comments>http://seremonia.net/well-defined/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 23:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[defined]]></category>
		<category><![CDATA[well]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan. Lalu adakah definisi yang baik ? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketika seseorang mendefinisikan sesuatu, sebenarnya itu adalah mengkaitkan sesuatu yang didefinisikan dengan kenyataan lainnya yang dianggap memiliki kesesuaian dengan yang ada pada yang didefinisikan. Tidak mungkin anda mendefinisikan (menjelaskan) sesuatu dengan memakai alat bantu (bahasa atau sistem simbolik lainnya) yang sekecil berapa persenpun tidak ada kesesuaian dengan yang didefinisikan.<span id="more-23"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lalu adakah definisi yang baik ? Tentu ada, tetapi tidak ada definisi yang tepat. Ini bukan berarti tidak ada sama sekali definisi yang dianggap layak (berdasarkan kaidah-kaidah pendefinisian), melainkan hanya menegaskan jangkauan dari definisi yang dianggap layak. Dengan pengertian bahwa ada definisi yang baik, dan kalaupun ada definisi yang tepat &#8230; itu adalah merupakan definisi yang konsisten dalam jangkauan tertentu tetapi tidak menyeluruh.</p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Dan memang tidak ada definisi yang sedemikian lengkap kecuali jika elemen-elemen pembentuk definisinya telah dengan jelas kebenarannya bertahan setelah dipertentangkan dengan segala elemen kenyataan yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai contoh demikian: untuk menjelaskan bahwa sebuah lingkaran dalam jangkauan tertentu adalah sesuatu yang dapat dijelaskan dengan suatu rumusan yang terkait dengan rumusan tentang lingkaran, bukanlah merupakan pendefinisian yang lengkap (yang tepat).</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh lain lagi: mendefinisikan “sejumlah empat potong kue” sebagai “sejumlah dua potong kue” ditambah “sejumlah dua potong kue” bukanlah suatu pendefinisian yang tepat. Pendefinisian yang mendekati tepat terhadap hal ini adalah, “sejumlah empat potong kue” adalah “bukan sejumlah lima potong kue”, “bukan sepuluh potong kue”, “bukan pula suatu tanaman”, “bukan pula suatu jenis minuman”, “bukan pula sejumlah empat dari kenyataan planet yang ada di tata surya”, dan seterusnya dipertentangkan dengan kenyataan yang ada di semesta ini. Ini adalah demi mencapai pendefinisian yang tepat. Dapatkah ini tercapai, tentu tidak !</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mengapa kita menganggap mampu mendefinisikan dan dianggap ada definisi yang layak . Hal itu adalah karena kebutuhan kita memperjelas sesuatu masih dirasa kurang dan perlu untuk memperjelas sesuatu tersebut dengan mengkaitkannya kepada hal lain yang dianggap cukup populer secara personal  (baca: <a href="http://seremonia.wordpress.com/2009/03/11/logic-make-sense/">logic &amp; make sense</a>) maka muncullah penjelasan (pendefinisian).</p>
<p style="text-align: justify;">Ini semua menegaskan bahwa sebenarnya kegiatan pendefinisian selalu merupakan kegiatan mempersempit (disadari atau tidak) batasan tentang sesuatu (karena ketidakmampuan kita menguji ketahanan elemen-elemen yang menjadi bagian dari yang didefinisikan dalam pertentangannya dengan keseluruhan keberadaan lainnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi jika kita menganggap bahwa suatu definisi sangat tidak lengkap atau dituduh mempersempit sesuatu kebenaran, adalah memang benar demikian. Bahkan ketika anda pun merasa definisi telah sedemikian lengkap, padahal sebenarnya hal itu tidak mungkin. Ini bukan berarti kita telah terlibat di dalam suatu kegiatan yang salah (dalam hal ini kegiatan mendefinisikan yang dianggap tidak layak).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika memang demikian, bagaimana seharusnya (paling mendekati tepat) menyikapi kegiatan mendefinisikan sesuatu ? Yaitu mendefinsikan adalah sebagai suatu kegiatan yang membimbing seseorang kepada sesuatu, dengan tetap tidak dapat dilepaskan dari mempersempit suatu kebenaran. Artinya, mendefinisikan adalah meletakkan (mengarahkan) kesadaran kita kepada kenyataan lainnya yang bersesuaian (dalam beberapa cara tertentu) dengan apa yang didefinisikan, sebagai titik awal kesadaran yang menunjukkan perkembangan pemahaman kita pada saat itu (di saat sedang mendefinisikan). Oleh karena itu kegiatan mendefinisikan adalah kegiatan memahami sesuatu pada titik tertentu dan dikemudian hari (boleh jadi) menjadi lebih luas lagi pemahamannya (perluasan kesadaran).</p>
<p style="text-align: justify;">Definisi sesuatu tidaklah tetap melainkan dinamis yang merupakan perluasan kesadaran, tetapi bukan berarti inkonsisten. Definisi haruslah konsisten dan kalau perlu (bisa) berkembang. Sebagai contoh anda menjelaskan bahwa “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat”. Penyempitan (pembatasan) pengertian ini dapat diterima dan dikemudian hari boleh jadi dapat berkembang menjadi “sesuatu itu adalah kendaraan beroda empat yang dapat dibebani oleh beban dalam jumlah tertentu”. Tetapi tidak benar jika dikemudian hari dinyatakan sebagai “sesuatu itu adalah kendaraan beroda dua&#8221; (padahal rodanya masih empat seperti ketika pertama kali mendefinisikan). Ada inkonsistensi disini, dan bukan merupakan pendefinisian yang baik. Tetapi jika kaidah-kaidah pendefinisian yang benar telah diikuti maka jangan sampai men-tidak-layakkan suatu definisi hanya karena suatu definisi tidak “well defined” (tidak lengkap), karena hal itu (ketepatan well defined) mustahil dicapai bagi kita</p>
<p style="text-align: justify;">Mendefinisikan (walaupun pada akhirnya mempersempit batasan tentang sesuatu kebenaran) adalah kegiatan yang secara konsisten seharusnya memperluas kesadaran kita. Melalui pemahaman terhadap pendefinisian seperti ini serta menyikapi pendefinisian seperti ini akan menghantarkan kita kepada perluasan kebaikan (apapun bentuknya yang paling sesuai bagi kita) dan menjauhkan kita dari mengkaitkan suatu definisi dengan sesuatu yang dianggap sebagai kurang berkualitas. Singkatnya: definisi apapun itu sejauh telah memadai maka adalah merupakan definisi yang berkualitas, karena definisi seharusnya memang tidak statis melainkan berkembang secara konsisten dengan lebih mencerahkan (memperluas) kesadaran siapapun yang merasa sedang mendefinisikan sesuatu (baik beberapa saat sesudah mendefinisikan atau di kemudian hari).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, adakah well defined ? Jawabnya ada (seminim apapun pembatasan yang disadari sebagai konsekuensi dari pendefinisian itu yang merupakan suatu kebenaran tertentu), karena seharusnya  baiknya pendefinisian bukanlah dilihat dari tidak sempitnya elemen-elemen definisi (karena hal ini tidak bisa dihindari) tetapi dari seberapa konsisten suatu pendefinisian serta bagaimana penerimaan kita terhadap perluasan yang ditimbulkan  oleh suatu definisi tertentu (dengan tidak mengabaikan persyaratan pendefinisian yang baik lainnya). Jadi, biarkanlah elemen-elemen definisi berkembang sebagai sarana perluasan kesadaran anda, sedangkan konsistensi yang terkandung dari suatu definisi dijadikan sebagai dasar kebenaran dari suatu definisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/well-defined/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Logic and Make Sense</title>
		<link>http://seremonia.net/logic-and-make-sense/</link>
		<comments>http://seremonia.net/logic-and-make-sense/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 23:46:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[logic]]></category>
		<category><![CDATA[make]]></category>
		<category><![CDATA[sense]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan logis terkadang bagi sebagian orang terasa sedemikian kering di perasaan. Terkesan mekanis atau sejenisnya, lalu dianggap sebagai penjelasan yang tidak logis. Ini wajar karena spontanitas pertama kali bagi kita dalam menguji penalaran cenderung membandingkannya dengan penalaran sehari-hari. Penalaran sehari-hari sering bersinggungan (di asosiasikan) dengan peristiwa sehingga walaupun suatu penalaran yang umum pada dasarnya kering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Penjelasan logis terkadang bagi sebagian orang terasa sedemikian kering di perasaan. Terkesan mekanis atau sejenisnya, lalu dianggap sebagai penjelasan yang tidak logis. Ini wajar karena spontanitas pertama kali bagi kita dalam menguji penalaran cenderung membandingkannya dengan penalaran sehari-hari. Penalaran sehari-hari sering bersinggungan (di asosiasikan) dengan peristiwa sehingga walaupun suatu penalaran yang umum pada dasarnya kering tetapi seolah dapat dirasakan sehingga dianggap masuk akal (atau yang sebenarnya adalah masuk di rasa), karena suatu penalaran di asosiasikan dengan suatu obyek atau perisitiwa.<span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Namun segera setelah anda mengetahui suatu pembuktian yang logis tidak dapat (atau sulit) dirasakan oleh perasaan, maka untuk beberapa saat (bisa sebentar, lama atau tidak jelas) akan sulit di pahami, kemudian akan dianggap tidak masuk akal (yang sebenarnya adalah tidak masuk di perasaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sama sulitnya dengan memahami indahnya surga jika tidak di asosiasikan dengan kebahagiaan versi kehidupan sehari-hari. Bahkan kalaupun batasan tentang keindahan surga berusaha dijelaskan secara logis dengan perbandingan sebagai &#8220;lebih baik dari kehidupan di dunia sebelum nyawa melayang&#8221;, akan segera terlihat betapa keringnya penjelasan tersebut. Anda mungkin akan segera mengasosiasikan pernyataan tersebut dengan keindahan terindah yang pernah ada di muka bumi ini sejauh pemahaman anda, kemudian menaikkan kadarnya menjadi lebih lagi &#8230; atau entah dengan cara asosiasi apa saja, sebagai salah satu cara memahami kadar keindahan surgawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sumber dari penjelasan logis yang banyak dianggap kering adalah penjelasan menggunakan logika matematika. Sebenarnya argumentasi menggunakan matematika atau bahkan disandarkan kepada fisika, kimia atau apa saja yang dianggap sebagai argumentasi kering, tidaklah benar-benar kering (sulit dirasakan), karena dalam melakukan penalaran kita tidak pernah lepas dari simbol-simbol. Simbol-simbol ini dikaitkan dengan rumusan matematika, fisika atau rumusan jenis apa saja untuk menyatakan argumentasi tentang suatu hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang jadi masalah adalah ketika simbol-simbol argumentasi yang dipakai tidak populer (jarang dipergunakan) dalam kehidupan sehari-hari, atau sedemikian jauh dari obyek yang populer, sehingga dibutuhkan kerja keras dalam menelusuri simbol-simbol tersebut sampai kepada (mengasosiasikan) obyek yang populer (sering dipergunakan) dalam kehidupan sehari-hari. Butuh beberapa saat untuk memahaminya, baik secara logika maupun secara perasaan (yang menjadi sebab dianggap sebagai masuk akal).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang cukup dapat menerima suatu argumentasi yang masuk akal walaupun mungkin sisi perasaannya belum dapat merasakan simbol-simbol argumentasi yang kurang populer (jarang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari). Atau mungkin simbol-simbol yang dianggap kurang populer bagi sebagian orang telah dianggap biasa baginya (populer bagi dirinya sendiri).</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan melalui <strong><em>perumpamaan </em></strong>yang tepatlah yang menjadikan suatu penalaran yang terkesan kering dapat dirasakan kebenarannya, sehingga mudah dipahami ! Tetapi kalaupun tidak menemukan perumpamaan yang tepat bagi sebuah argumentasi, mungkin hanya belum ditemukan saja. Lagi pula tidak selalu suatu argumentasi sesuai bagi setiap orang ! Kita hanya dapat berdoa agar selalu diberi kepahaman atas hal yang sulit sejauh itu dirasa penting. Dan seberapa penting sesuatu itu ? Sekali lagi berdoalah agar kita terhindar dari kesia-siaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/logic-and-make-sense/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Debate</title>
		<link>http://seremonia.net/debate/</link>
		<comments>http://seremonia.net/debate/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 23:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[debate]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Sampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan &#8211; bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran &#8211; berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sampai seberapa jauh perdebatan diperlukan ? Pada kenyataannya selalu ada pihak yang tidak puas hanya sekedar penjelasan seperlunya tanpa perdebatan. Ini tidak berarti perdebatan &#8211; bahkan walaupun demi alasan membela kebenaran &#8211; berada dalam prioritas utama memberikan penegasan tentang suatu kebenaran, melainkan sebagai jalan terakhir ketika beberapa orang merasa sedemikian sulit melihat kesederhanaan kebenaran dalam hal apa saja.<span id="more-19"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Itupun hanya ditujukan secara khusus kepada pihak yang mungkin tidak menyukai perdebatan tetapi watak bawaannya siap untuk menelaah esensi suatu perdebatan. Tetapi bahkan di masa dahulu ketika filsafat memasuki umat Islam, mau tidak mau senjata terakhir menghadapi perdebatan keimanan adalah perdebatan itu sendiri. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa perdebatan seharusnya bukanlah priroritas utama dalam mencari solusi pemahaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Perdebatan adalah merupakan pemenuhan satu sisi keseimbangan dalam memahami sesuatu. Dan adalah benar (walaupun tidak selalu, karena suatu ketika perdebatan pasti menghadang kita) bahwa harus kita budayakan cara yang lebih mudah selain dari perdebatan sebagai batasan keras jauh sebelum digunakan cara terakhir yaitu perdebatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu ditegaskan disini bukanlah meniadakan sama sekali perdebatan sebagai cara buruk atau terburuk dalam memahami sesuatu atau untuk tujuan apapun, melainkan meletakkannya secara hati-hati pada prioritas yang tepat sesuai situasi dan kondisi, karena apa saja jika diletakkan pada tempatnya secara bijaksana maka tidak akan lagi terlihat, mana yang benar dan mana yang salah, melainkan hanyalah keserasian.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi apakah hal ini telah kita lakukan ? Sayangnya saya secara pribadi tidak akan pernah mengetahuinya. Untuk itu kita harus sering memohon ampun kepada Allah jika dalam segala kebijaksanaan tindakan dirasa kurang tepat. Kita hanyalah manusia bodoh yang berusaha agar selalu tepat dalam tindakan, Amin.</p>
<p style="text-align: justify;">Perdebatan hanya akan menjadi senjata terakhir yang penuh hikmah dalam memperoleh kebenaran hanya jika beberapa hal dilaksanakan dengan sedemikian ketat:</p>
<p style="text-align: justify;">1. <strong><em>Adab kerendah-hatian</em></strong>: (karena kita juga belum mengetahui sampai seberapa jauh kualitas dari solusi yang ditawarkan oleh diri sendiri), dengan menghindari caci-maki dan tindakan keangkuhan dalam bentuk apapun. Untuk yang satu ini anda bahkan kita tidak dapat menipu Allah tentang sampai seberapa jauh hal ini (debat atas dasar kerendah-hatian) dapat terlaksana.</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda melakukan perdebatan atas nama kebenaran, tetapi segera setelah terlihat anda mengacungkan jari, berkacak pinggang atau sikap merasa benar atau terkesan memaksakan kehendak lainnya, maka kita telah terjebak dalam keangkuhan. Mungkin kita berada di posisi yang benar, tetapi seolah-olah &#8211; kalaupun solusi kita terpakai &#8211; hanya seperti martir, dimana orang lain menikmati kebenaran solusi kita, tetapi pahala atau cinta-kasih yang merupakan <em><strong>penghargaan dari Allah</strong></em> tidak kita dapatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">2. <strong>Adab kesabaran</strong>: (kita tidak pernah mengetahui kemampuan daya nalar &#8211; pemahaman &#8211; lawan bicara kita), berusahalah semampu kita mengukur sampai seberapa jauh lawan bicara kita memahami apa yang kita utarakan, atau melihat kembali kepada diri sendiri tentang kemungkinan (justru) diri kita sendiri yang belum memahami permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak segan untuk meminta penjelasan terhadap lawan bicara agar komunikasi dapat tetap berlangsung. Cobalah menggunakan penjelasan yang logis atau cara lainnya yang dianggap <strong><em>dapat saling dipahami</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">3. <strong>Adab Prioritas</strong>: (masih ada hari esok), lihatlah seberapa penting perdebatan harus dilaksanakan. Jangan sampai mengorbankan hal-hal lain yang lebih utama. Dan kalaupun perdebatan dianggap harus dituntaskan karena menyangkut hal penting, teliti lagi apakah sedemikian penting ?</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menentukan seberapa penting prioritas suatu topik dalam perdebatan, cobalah bertanya dahulu sebelum berdebat, apa saja dalam kehidupan anda pribadi di masa sekarang yang harus dijaga dan harus segera ditindak-lanjuti ? Kemudian pastikan apakah perdebatan yang akan anda lakukan tidak mengabaikan hal ini. Lalu pastikan juga dampaknya secara meluas. Dan yang paling penting adalah perlu diketahui bahwa solusi apapun akan sulit diketahui kesempurnaannya, jadi yang dicari adalah solusi dengan <strong><em>resiko seminim mungkin</em></strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">4. <em><strong>Adab Ketulusan</strong></em> : Sudahkah kita melakukan perdebatan dengan dilandasi oleh ketulusan ?</p>
<p style="text-align: justify;">5. <em><strong>Adab Pengawasan Hati</strong></em>: (ini adalah elemen yang terpenting untuk mawas diri), yaitu setelah anda selesai melakukan perdebatan dengan hasil akhir: memuaskan atau ditunda atau status apapun itu, lakukanlah <strong><em>cek terhadap batin anda:</em></strong></p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>Apakah ketulusan anda berkurang ?</li>
<li>Apakah kerendah-hatian anda berkurang ?</li>
<li>Apakah kesabaran anda berkurang ?</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Jika hal ini berkurang dari kebiasaan anda sehari-hari berarti ada yang kurang tepat dalam melakukan perdebatan ! Dan jika bertambah (semakin rendah-hati, semakin sabar atau semakin tulus mewarnai kehidupan anda sehari-hari) maka perdebatan memiliki nilai lebih. Dan kalau nilai-nilai tersebut tetap kadarnya sebagaimana mewarnai di kehidupan anda sehari-hari, konsekuensinya boleh jadi anda telah melakukan kesia-siaan atau boleh jadi bukan kesia-siaan di pihak lawan anda (jika ini benar atau tidak anda ketahui), maka hanya berharap saja agar anda tidak melakukan kesia-siaan. <em>Bahkan ini dapat diterapkan di segala segi kehidupan kita. </em><em>Dan untuk semuanya ini anda tidak dapat menipu Allah, anda mengetahui dengan pasti terhadap diri anda sendiri !<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya masih ada banyak adab lainnya dalam perdebatan, saya dan anda dapat menambahkan sendiri sejauh pemahaman anda dan saya sendiri. Semoga kita selalu mendapatkan kebijaksanaan, Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/debate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuhan itu Ada, dan Hanya Ada Satu</title>
		<link>http://seremonia.net/tuhan-itu-ada-dan-hanya-ada-satu/</link>
		<comments>http://seremonia.net/tuhan-itu-ada-dan-hanya-ada-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 23:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[ada]]></category>
		<category><![CDATA[hanya]]></category>
		<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[tawhid]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, &#8230; dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya. Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: &#8220;karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah sekian lama mencari kebenaran dan akhirnya menemukan bukti kebenaran keberadaan Tuhan, &#8230; dan setelah mengetahui belum adanya argumentasi dengan eksplorasi pola kedalaman seperti yang telah saya ekplorasi, maka saya memulai publikasi ini. Anda dapat menambah wawasan dengan membaca argumentasi dari Aristotle dan lainnya.<span id="more-16"></span></p>
<p>Argumentasi ini menyempurnakan argumentasi yang mungkin telah anda kenal yaitu: &#8220;karena penelusuran mundur tak terbatas tidak mungkin, maka akan berakhir kepada Sesuatu yang paling awal (Tuhan)&#8221;, dimana penyempurnaan dilakukan <em><strong>dengan meniadakan</strong></em> alasan yang bersandar kepada ketidak-terbatasan. <img title="More..." src="http://seremonia.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />  </p>
<p><strong>KEBERADAAN TAK BERAWAL ITU ADA</strong>  </p>
<p><em><strong>(Konsekuensi Penelusuran Mundur)</strong></em>  </p>
<p>Keberadaan sesuatu berasal dari keberadaan sesuatu yang lain dan keberadaan sesuatu yang lain berasal dari keberadaan sesuatu yang lain lagi demikian seterusnya sehingga membentuk sesuatu pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab dengan pola penelusuran mundur yang boleh jadi tak berkesudahan.  </p>
<p>x &lt;–(berasal dari)– ~ [tak terbatas]  </p>
<p>Dengan mengandaikan bahwa dari “x” tidak muncul keberadaan sesuatu yang lain maka batas yang paling kiri berada pada “x” (akibat) dengan penelusuran mundur ke arah kanan (sebab) menjauhi “x”.  </p>
<p>Pertanyaannya sekarang adalah apakah pada saat ini dapat terjadi penciptaan ? Ada dua kemungkinan jawaban yaitu: </p>
<p>1. Jika tidak dimungkinkan terjadinya penciptaan berarti tidak ada perubahan jumlah keberadaan sehingga jumlah keberadaan dihitung dari “x” (akibat) lalu mundur ke arah kanan (sebab) menjauhi “x” adalah sebesar tertentu yang tak bertambah,  </p>
<p>x &lt;–(mundur ke arah)– ! [terbatas] , <em>yang berarti</em> …  </p>
<p>x &lt;–(berasal dari)– ! [titik paling awal]  </p>
<p>2. Kalaupun dinyatakan bahwa dimungkinkan terjadinya penciptaan berarti ada penambahan yang mengakibatkan terbentuknya dua arah penelusuran mundur yaitu pertama: dari “x” (akibat) menuju ke arah kanan “?” (sebab – titik tertentu ke-1), dan yang kedua: dari “y” (titik tertentu ke-2) yang terletak di posisi urutan setelah “?” (titik tertentu ke-1) menuju ke arah kiri (menuju ke arah “?” sekaligus juga menuju ke arah “x”).  </p>
<p>x &lt;–(berasal dari)– ? –(menciptakan)–&gt; y [titik tertentu ke-2] ,   </p>
<p><em>yang berarti</em> …  </p>
<p>x &lt;–(mundur ke arah)– ? [titik tertentu ke-1] , <em>dan</em> …  </p>
<p>y &lt;–(mundur ke arah)– x , <em>konsekuensinya</em> …  </p>
<p>x –(bertemu di)–&gt; ? [titik tertentu ke-1] , <em>dan</em> … </p>
<p>y –(bertemu di)–&gt; ? [titik tertentu 1] , <em>sehingga</em> … kedua penelusuran mundur berakhir (terbatasi) di satu titik temu (titik paling awal) … </p>
<p> x —-&gt; ? [titik tertentu ke-1 sebagai titik temu] &lt;—- y [titik tertentu ke-2] </p>
<p> Bagaimanapun penelusuran diusahakan selalu menunjukkan (menuju ke) titik akhir yang merupakan batas sebagai titik paling awal. Kebenaran ini menegaskan bahwa pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab dengan pola mundur yang tak berkesudahan adalah merupakan kemustahilan sehingga yang benar adalah bahwa pola penelusuran mundur yang dimulai dari akibat lalu mundur menuju sebab adalah merupakan pola penelusuran mundur yang tidak tak berkesudahan sebagaimana yang telah dibuktikan melalui beberapa kebenaran di atas dan hal ini menegaskan secara pasti adanya Keberadaaan Tak Berawal yang bukan merupakan akibat dari sebab yang manapun. </p>
<p> 1 Januari 2000 ~ 20 April 2003, 03:00  </p>
<p>Sebagaimana telah dinyatakan tentang pembuktian adanya &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, tentu ini memberikan konsekuensi lebih lanjut yaitu adanya kemungkinan lebih dari satu &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;, dimana masing-masing dari keberadaan tak berawal tersebut boleh jadi merupakan keberadaan tak berawal bagi keberawalan seluruh jenis kucing, atau bakteri, atau lainnya apapun itu (seolah-olah ada tuhannya kucing, tuhannya bakteri, tuhannya batu, setiap sesuatu dengan tuhannya sendiri-sendiri atau bahkan tuhannya alam &#8211; alam semesta). Yang masing-masing dari tuhan ini juga dapat dianggap sebagai tak berawal.Konsekuensi atas dugaan adanya banyak keberadaan tak berawal (lebih dari satu) ini telah dipikirkan beberapa tahun setelah mengetahui adanya bukti &#8220;KEBERADAAN TAK BERAWAL&#8221;. Dan setelah saya temukan argumentasinya serta sekali lagi belum adanya pembahasan dengan pola kedalaman seperti yang telah saya eksplorasi, maka pada akhirnya pembuktian hanya ada satu keberadaan tak berawal saya publikasi. </p>
<p>Argumentasi ini mungkin tidak sesuai bagi setiap orang, karena masing-masing pribadi memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi tentang argumentasi seperti apa yang sesuai bagi setiap pribadi. Ini bukan masalah, dan memang tidak setiap pribadi dapat sesuai untuk keseluruhan pribadi. </p>
<p><strong>KETUNGGALAN KEBERADAAN TAK BERAWAL</strong> </p>
<p><strong><em>(Analisa Batasan Secara Matematis)</em></strong> </p>
<p>Keberadaan memiliki luas sedangkan ketiadaaan tidak memiliki luas sehingga ketiadaan tidak dapat berada di antara dua keberadaan serta tidak ada yang masuk menuju ketiadaaan dan tidak ada yang keluar dari ketiadaan. </p>
<p>Keberadaan berawal adalah bagian dari keberadaan tak berawal, sehingga luas keberadaan berawal bukanlah merupakan pertambahan dari luas keberadaan tak berawal, dan ini menegaskan bahwa keberadaan berawal tidaklah berdampingan sedekat atau sejauh apapun dengan keberadaan tak berawal. </p>
<p>Jika ada dua keberadaan tak berawal, maka satu keberadaan tak berawal terhadap keberadaan tak berawal lainnya saling membatasi pada batas terluar dari masing-masing keberadaan tak berawal tersebut. Hal ini menegaskan konsekuensi lebih lanjut tentang kemungkinan-kemungkinan dari saling membatasi di antara keduanya. </p>
<p><strong>Pembuktian Kontradiktif, </strong><strong>Kedekatan versi 1 </strong><strong>(Penyatuan)</strong>: </p>
<p>Jika ada nilai “x” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal melampaui batas dari nilai “y” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal ke-2, maka ke-duanya bukan lagi sebagai dua bagian keberadaan tak berawal, melainkan sebagai satu bagian (serba sama) keberadaan tak berawal. </p>
<p><strong>Pembuktian Kontradiktif, </strong><strong>Kedekatan versi 2 </strong><strong>(Berkesinambungan):</strong> </p>
<p>Jika ada nilai “x” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal yang berada di posisi dari nilai “y” sebagai batas terluar dari satu bagian keberadaan tak berawal ke-2, maka ke-duanya saling berkesinambungan menjadi satu kesatuan (serba sama) keberadaan tak berawal. </p>
<p><strong>Pembuktian Kemustahilan, </strong><strong>Kedekatan versi 3 </strong><strong>(Saling Berdekatan):</strong> </p>
<p>Jika ada nilai “x” sedemikian dekat dengan nilai “y” tanpa mengambil harga “y” maka selalu terdapat nilai selisih sebagai akibat dari pengurangan nilai “y” oleh nilai “x” (karena ketidak-sepadanannya antara nilai “x” terhadap nilai “y”), sehingga jika ada keberadaan tak berawal dengan batasan terjauhnya di lokasi “x” sedemikian dekat dengan batasan terjauh dari keberadaan tak berawal lainnya di lokasi “y”, maka selalu ada jarak sekecil atau sebesar berapapun di antara dua keberadaan tak berawal yang saling berdekatan sedekat apapun tersebut dan hal ini memberikan empat kemungkinan konsekuensi yaitu: </p>
<p>1. Adanya luas seukuran berapapun (keberadaan) yang merupakan luas perpanjangan dari salah satu keberadaan tak berawal yang mana saja di antara keduanya dan hal ini adalah merupakan kemustahilan karena luas tidak dapat bertambah hanya oleh dirinya sendiri, </p>
<p>2. Adanya luas seukuran berapapun (keberadaan) yang merupakan luas dari sesuatu keberadaan tak berawal ke-tiga yang terletak di antara dua keberadaan tak berawal yang saling berdekatan sedekat apapun tersebut mengisyaratkan adanya batas luar tambahan lainnya dari keberadaan tak berawal yang telah ada sebelumnya, demikian seterusnya yang menyatakan adanya penambahan yang tak berkesudahan yang merupakan kemustahilan,  </p>
<ul>
<li>Jika penambahan keberadaan tak berkesudahan adalah merupakan penambahan keberadaan tak berawal, maka hal ini merupakan kontradiksi karena keberadaan tak berawal tidak di awali oleh keberadaan lainnya (keberadaan tak berawal bukanlah merupakan salah satu keberadaan  dari mata rantai penambahan keberadaan). Atau dengan pengertian yang setara, bahwa penambahan keberadaan menegaskan keberawalan dari suatu keberadaan,</li>
</ul>
<ul>
<li>sedangkan jika penambahan keberadaan tak berkesudahan adalah merupakan penambahan keberadaan berawal, maka hal ini menegaskan pertambahan keberadaan berawal di luar dari keberadaan tak berawal yang merupakan kemustahilan.</li>
</ul>
<p>3. Adanya luas seukuran berapapun yang merupakan luas perpanjangan dari salah satu keberadaan berawal yang mana saja di antara dua keberadaan berawal yang saling berdekatan dan hal ini adalah merupakan kemustahilan karena luas di antara dua keberadaan berawal yang saling berdekatan tersebut adalah luas dari keberadaan tak berawal itu sendiri (keberadaan berawal selalu berawal dari dalam keberadaan tak berawal, karena jika dianggap ada lebih dari satu keberadaan tak berawal, maka keseluruhan luas hanya diliputi oleh keberadaan tak berawal),  4. Adanya luas seukuran berapapun yang merupakan luas dari sesuatu keberadaan tak berawal yang tidak hanya berada di antara dua keberadaan tak berawal melainkan meliputi kedua keberadaan tak berawal yang dimaksud dan hal ini menegaskan tidak adanya segmentasi berulang (penambahan) keberadaan yang tak berkesudahan.  </p>
<p>Semua hal di atas menegaskan beberapa hal yaitu:  </p>
<pre><em>Kemustahilan bagi dugaan </em><em>kemungkinan kombinasi </em><em>posisi
(kedekatan) di antara dua keberadaan tak berawal, yang</em><em>
jika dipaksakan, maka justru:

1. Menegaskan ke-tunggalan-nya sebagai satu bagian
keberadaan tak berawal,</em>
<em>
2. Konsekuensi adanya</em><em> segmentasi berulang (penambahan)
keberadaan tak berawal yang tak berkesudahan yang merupakan
kemustahilan, kecuali dengan menyatakan kebalikannya sebagai
hanya ada satu bagian keberadaan tak berawal,

3. Sedangkan keanekaragaman keberadaan yang berawal dan
bersandar pada satu keberadaan tak berawal hanyalah
menampakkan </em><em>batasan relative (</em><em>(merupakan atribut - limit)
</em><em>yang memungkinkan adanya segmentasi berulang (penambahan)
keberadaan berawal namun berkesudahan yang bukan merupakan
kemustahilan.

</em><em>Hal ini memastikan bahwa hanya ada Satu Keberadaan Tak
Berawal yang merupakan Keberadaan Tak Berawal tanpa
sesuatu keberadaan tak berawal lainnya di atas maupun
di bawah juga disebelah manapun dari Satu Keberadaan
Tak Berawal tersebut,</em></pre>
<p><em>Dengan pengertian yaitu:</em>   <em>HANYA ADA <strong>SATU KEBERADAAN TAK BERAWAL</strong> &amp; ADA <strong>BANYAK KEMUNGKINAN PENAMPAKAN YANG MERUPAKAN KEBERADAAN BERAWAL</strong> (yang merupakan atribut – limit – dari Keberadaan Tak Berawal), sehingga keanekaan keberadaan berawal tidak menggugurkan Ketunggalan Keberadaan Tak Berawal yang menjadi sandaran bagi keanekaan keberadaan berawal tersebut.</em> 18 Maret 2005, 07:30<br />
  </p>
<h3>Konsekuensi-Konsekuensi Lebih Lanjut</h3>
<p>Setelah anda memahami akan adanya keberadaan tak berawal dan hanya ada satu keberadaan tak berawal, maka hal-hal tersebut memberikan pemahaman lebih lanjut. Beberapa tidak dapat saya jelaskan lebih detail melainkan anda harus memahami lebih detail terhadap pembuktian adanya Satu Keberadaan Tak Berawal. Mungkin jika ada waktu akan dibahas lebih lanjut. Di antaranya sebagai berikut:  </p>
<p>1. Wujud adalah pendaran berulang-ulang dari sifat (perbuatan) secara terus menerus yang membentuk suatu pola tertentu yang kita amati sebagai wujud (seberapa keraspun atau seberapa haluspun wujud tersebut). Dimana satu wujud dibentuk oleh rajutan satu atau beragam pendaran sifat-sifat (atribut &#8211; limit) dari keberadaan tak berawal di suatu lokasi tertentu. Atau dengan kata lain, suatu wujud dibentuk oleh sejumlah perbuatan &#8211; aksi yang sebenarnya merupakan atribut atau sifat-sifat dari Keberadaan Tak Berawal itu sendiri.  </p>
<p>Jadi, satuan terkecil bukanlah sejenis atom, atau partikel kecil lainnya melainkan adalah perbuatan dari Keberadaan Tak Berawal. Untuk setiap kehendak dari keberadaan berawal yang terwujud melibatkan (merupakan) sekumpulan perbuatan yang sedemikian rupa sehingga terkesan adanya wujud tertentu.  </p>
<p>2. Pendaran berulang-ulang dari sifat (perbuatan) berada pada dua pergantian yaitu antara ada-tiada (tersirat) atau bagaikan on-off atau getaran (karena jika on terus maka tidak ada perubahan pola dan jika off terus maka tidak ada wujud yang terdeteksi oleh kita) dan dapat mensimulasikan pergerakan dengan cara memindahkan pendaran di sisi lain dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa ada secuilpun pergeseran, desakan terhadap apapun (tidak adanya pergerakan). Untuk selanjutnya penggunaan pergerakan saya maksudkan adalah sebagaimana yang telah ditegaskan ini.  </p>
<p>3. Tidak ada ruang hampa atau kosong. Definisi ruang hampa atau kosong harus di definisikan ulang sebagai keberadaan yang sama padatnya dengan keberadaan lainnya. Perbedaannya antara ruang yang dianggap kosong dengan yang tidak adalah bahwa ruang hampa dalam level tertentu dinampakkan sebagai area yang bersih dari objek-objek yang dianggap umum (yang dianggap dapat di deteksi) serta diberlakukan perijinan (hukum) untuk mensimulasikan perjalanan di dalamnya. Ruang hampa atau ruang kosong memiliki potensi untuk berubah menjadi wujud sama dengan ruang yang dianggap padat lainnya (yang juga dapat berubah menjadi &#8211; merupakan &#8211; ruang kosong).  </p>
<p>4. Perjalanan singkat dari satu tempat ke tempat lain adalah merupakan pelenyapan dari satu pola wujud tertentu (yang terbentuk dari satu atau sejumlah pendaran sifat) untuk diwujudkan di suatu ruang yang dianggap kosong di suatu lokasi tertentu lainnya (juga melalui pembentukan pendaran sifat secara berulang-ulang dengan menggunakan bahan dari ruang kosong di tempat tertentu yang baru itu sendiri).  </p>
<p>5. Keberadaan tak berawal walaupun dapat menunjukkan keanekaragaman (perbedaan) melalui sifat-sifatnya (atribut-atributnya, limit-limitnya) dalam bentuk keanekaragaman keberadaan berawal, namun sebagai satu keberadaan tak berawal yang merupakan SATU BAGIAN, menegaskan ke-SATU BAGIAN-nya dari Keberadaan Tak Berawal adalah sama di segala penjuru bagiannya.  </p>
<p>Ini menegaskan pula bahwa secara mendasar Keberadaan Tak Berawal itu sendiri ke segala penjuru terhadap gaya-gayanya, ataupun potensi-potensi serta kemungkinan &#8211; kemungkinannya adalah serba sama yang memberikan konsekuensi yaitu Keberadaan Tak Berawal memiliki kemampuan (potensi) menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jenis keberadaan berawal tertentu dengan tingkat kemungkinan-kemungkinan kesempurnaan yang juga sama di setiap bagiannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/tuhan-itu-ada-dan-hanya-ada-satu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Tuhan ?</title>
		<link>http://seremonia.net/adakah-tuhan/</link>
		<comments>http://seremonia.net/adakah-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 23:17:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[adakah]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://seremonia.net/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Asal segala sesuatu berada dalam dua kemungkinan yaitu berasal dari sesuatu atau tidak berasal dari sesuatupun. Jika dijawab sesuatu selalu berasal dari sesuatu sebelumnya maka penghitungan mundur dari sesuatu (yang merupakan akibat) menuju ke asal mulanya sesuatu (sebab) melibatkan pengurangan angka atau dengan kata lain memiliki hitungan mundur. Ini bermakna bahwa hitungan mundur akan berkurang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Asal segala sesuatu berada dalam dua kemungkinan yaitu berasal dari sesuatu atau tidak berasal dari sesuatupun. Jika dijawab sesuatu selalu berasal dari sesuatu sebelumnya maka penghitungan mundur dari sesuatu (yang merupakan akibat) menuju ke asal mulanya sesuatu (sebab) melibatkan pengurangan angka atau dengan kata lain memiliki hitungan mundur. Ini bermakna bahwa hitungan mundur akan berkurang menuju ke angka satu. Dan hal ini menegaskan bahwa segala sesuatu pasti dapat ditelusuri mundur sampai ke titik paling awal yang merupakan keberadaan tak berawal.<span id="more-12"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kesatuan adalah setara dengan jumlah bagian-bagiannya, sehingga jika ada sejumlah tertentu kesatuan, maka jumlah totalnya adalah juga setara dengan jumlah total dari keseluruhan bagian-bagian dari setiap kesatuan-kesatuan yang ada yang terkait dengan bagian-bagiannya itu sendiri. Dan luas suatu kesatuan tidak dapat bertambah hanya oleh dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika keseluruhan bagian dari suatu kesatuan tertentu ditunjuk tanpa satu bagianpun yang terlewatkan, dan dilakukan penelusuran mundur, maka luas gabungan keseluruhan bagian yang satupun tidak terlewatkan tersebut (dari awal dan selama penelusuran mundur) memiliki perubahan ukuran luas yang tidak akan pernah melampaui kesatuannya, sehingga penelusuran mundur tersebut harus berhenti atau kalau tidak maka dapat dikenakan angka berapapun terhadap luas kesatuannya, dan ini sama saja menyatakan bahwa bagian-bagian tersebut tidak memiliki kesatuan yang merupakan kemustahilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebenaran-kebenaran di atas menegaskan bahwa penelusuran mundur akan berhenti pada suatu kesatuan dengan luas tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mengandaikan pemikiran absurd bahwa setiap sesuatu berakhir kepada sesuatu yang paling awal, maka ada banyak keberadaan tak berawal yang merupakan kesatuan-kesatuan tak berawal.</p>
<hr style="text-align: justify;" />
<p style="text-align: justify;">Jika ada dua keberadaan tak berawal maka salah satu yang mana saja di antara keduanya adalah bukan merupakan akibat dari keberadaan tak berawal lainnya sehingga salah satu yang mana saja di antara keduanya adalah merupakan batas bagi keberadaan tak berawal lainnya dan hal ini menegaskan adanya perbedaan mendasar secara menyeluruh di antara dua keberadaan tak berawal. Kebenaran ini juga menegaskan bahwa Keberadaan Tak Berawal adalah merupakan Satu Bagian Keberadaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya perbedaan mendasar secara menyeluruh di antara dua keberadaan tak berawal menegaskan bahwa:</p>
<p style="text-align: justify;">* Di antara dua Keberadaan Tak Berawal, satu terhadap lainnya adalah merupakan Satu Bagian Keberadaan yang saling berbeda secara menyeluruh</p>
<p style="text-align: justify;">* Di antara dua Keberadaan Tak Berawal, satu terhadap lainnya adalah merupakan Satu Bagian Keberadaan yang memiliki kemendasaran struktur yang saling berbeda secara menyeluruh, sehingga untuk setiap pembentukan struktur lebih lanjut selalu didasarkan kepada kemendasaran struktur dari salah satu Keberadaan Tak Berawal tanpa dapat melampauinya</p>
<p style="text-align: justify;">* Adanya struktur lebih lanjut yang pembentukannya didasarkan kepada satu tipikal kemendasaran struktur serta tidak adanya sesuatupun yang dapat melampaui kapasitas dirinya oleh dirinya sendiri memberikan konsekuensi bahwa struktur lebih lanjut tersebut pasti juga memiliki kesesuaian struktur dengan kemendasaran struktur pembentuknya (salah satu dari beberapa Keberadaan Tak Berawal)</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal terbukti adanya konsistensi pada struktur lebih lanjut yang mendasari setiap kenyataan yang ada yang berarti memastikan bahwa seluruh kenyataan empirik berasal dari Satu Keberadaan Tak Berawal dengan kemendasaran strukturnya, yang merupakan Pencipta segala yang ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://seremonia.net/adakah-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
